Hari ini internet terasa seperti udara. Kita baru sadar ia ada justru ketika ia hilang. Wifi mati lima menit saja, satu rumah bisa berubah menjadi forum diskusi darurat: siapa yang terakhir menyentuh router, kenapa lampunya berkedip merah, dan apakah ini saat yang tepat untuk menilai ulang pilihan provider. Padahal, tidak sampai satu abad yang lalu, "mengirim pesan ke komputer lain" adalah ide yang terdengar hampir sama anehnya dengan mengirim surat ke bulan.

Artikel ini mencoba menceritakan bagaimana kita bisa sampai di sini: dari sekumpulan ilmuwan yang panik karena sebuah bola logam Soviet, sampai miliaran manusia yang kini merasa gelisah kalau sinyal tinggal satu bar. Ceritanya panjang, melibatkan banyak orang jenius, beberapa kegagalan yang justru bersejarah, dan satu pesan pertama yang gagal terkirim secara utuh.

Perang Dingin dan Rasa Panik yang Produktif

Sejarah internet tidak dimulai dari niat mulia menghubungkan umat manusia. Ia dimulai dari rasa panik. Pada 4 Oktober 1957, Uni Soviet meluncurkan Sputnik, satelit buatan pertama di dunia. Ukurannya hanya sebesar bola pantai dan kerjanya cuma berbunyi bip-bip, tetapi efeknya pada Amerika Serikat luar biasa: mereka merasa tertinggal dalam teknologi, dan itu bukan perasaan yang nyaman di tengah Perang Dingin.

Sebagai respons, pemerintah Amerika mendirikan ARPA (Advanced Research Projects Agency) pada tahun 1958, sebuah lembaga riset yang tugasnya kira-kira: pastikan kejutan seperti Sputnik tidak terulang. Dari lembaga inilah, bertahun-tahun kemudian, lahir jaringan komputer yang menjadi nenek moyang internet. Jadi bisa dibilang, internet adalah salah satu hasil sampingan paling produktif dari sebuah kepanikan nasional.

Pada tahun 1963, seorang ilmuwan bernama J.C.R. Licklider menulis memo kepada rekan-rekannya di ARPA. Ia membayangkan sebuah "Intergalactic Computer Network", jaringan komputer yang saling terhubung dan bisa dipakai siapa saja dari mana saja. Nama itu setengah bercanda, tetapi idenya serius. Licklider pada dasarnya sedang mendeskripsikan internet, puluhan tahun sebelum internet ada, seperti orang yang memesan ojek online pada zaman kereta kuda.

Satu masalah teknis besar harus dipecahkan dulu: bagaimana cara mengirim data antar komputer dengan andal? Jawabannya datang dari konsep packet switching, yang dikembangkan secara terpisah oleh Paul Baran di RAND Corporation dan Donald Davies di National Physical Laboratory Inggris. Idenya: data dipotong menjadi paket-paket kecil, dikirim lewat jalur yang bisa berbeda-beda, lalu disusun ulang di tujuan. Mirip mengirim satu lemari lewat beberapa kurir berbeda, dan anehnya, lemari itu selalu berhasil dirakit kembali di rumah penerima.

ARPANET dan Pesan Pertama yang Langsung Bikin Crash

Pada tahun 1969, ide-ide itu akhirnya diwujudkan dalam bentuk ARPANET, jaringan komputer pertama yang memakai packet switching. Malam tanggal 29 Oktober 1969, seorang mahasiswa UCLA bernama Charley Kline mencoba mengirim pesan pertama ke komputer di Stanford Research Institute, sekitar 500 kilometer jauhnya. Pesannya sederhana: kata "LOGIN".

Yang terkirim hanya dua huruf: "L" dan "O". Setelah itu sistemnya crash. Maka pesan pertama dalam sejarah jaringan yang kelak menjadi internet adalah "LO", yang kalau mau dramatis bisa dibaca sebagai awal dari "Lo and behold" (lihatlah dan takjublah), dan kalau mau jujur adalah bukti bahwa tradisi "demo langsung error di depan orang" sudah ada sejak hari pertama. Sekitar sejam kemudian mereka mencoba lagi dan berhasil login penuh, tetapi sejarah sudah terlanjur mencatat versi yang lebih lucu.

Pada akhir tahun 1969, ARPANET baru punya empat titik: UCLA, Stanford Research Institute, UC Santa Barbara, dan University of Utah. Empat komputer, empat lokasi, dan sudah cukup untuk mengubah dunia. Kalau grup chat pertama di dunia punya anggota, ya empat kampus inilah orangnya.

Tahun 1971, seorang insinyur bernama Ray Tomlinson membuat program untuk mengirim pesan antar komputer di ARPANET, dan memilih simbol @ untuk memisahkan nama pengguna dengan nama mesinnya. Sederhana, praktis, dan tanpa sadar ia baru saja menciptakan email sekaligus menyelamatkan satu karakter di keyboard dari pengangguran abadi. Tomlinson sendiri konon tidak ingat persis isi email pertamanya; kemungkinan besar sesuatu seperti "QWERTYUIOP", yang membuktikan bahwa email pertama di dunia pun isinya sudah tidak penting.

TCP/IP: Akhirnya Semua Komputer Sepakat Satu Bahasa

ARPANET berkembang, tetapi muncul masalah baru: jaringan-jaringan lain ikut bermunculan, dan mereka tidak bisa saling bicara. Situasinya mirip rapat internasional tanpa penerjemah. Setiap jaringan punya aturan sendiri, format sendiri, dan keyakinan sendiri bahwa cara merekalah yang paling benar.

Solusinya dirumuskan oleh Vint Cerf dan Bob Kahn, yang pada tahun 1974 menerbitkan makalah berjudul "A Protocol for Packet Network Intercommunication". Dari makalah inilah lahir TCP/IP, sepasang protokol yang menjadi bahasa bersama semua jaringan. TCP mengurus agar data sampai lengkap dan berurutan, IP mengurus pengalamatan dan pengiriman. Keduanya sampai sekarang masih menjadi fondasi internet, yang berarti kita semua sedang menggunakan teknologi berumur lima puluh tahun untuk menonton video kucing.

Tanggal 1 Januari 1983, ARPANET resmi beralih total ke TCP/IP. Hari itu sering disebut "flag day", dan oleh banyak orang dianggap sebagai hari lahir internet dalam pengertian modern: jaringan dari banyak jaringan yang berbicara satu bahasa. Bayangkan seluruh penghuni kompleks sepakat mengganti kunci rumah pada hari yang sama, dan anehnya, berhasil.

Masih di tahun 1983, Paul Mockapetris memperkenalkan Domain Name System (DNS). Sebelum DNS, alamat komputer harus dihafal dalam bentuk angka, dan daftar nama komputer disimpan dalam satu file yang disalin ke mana-mana. DNS mengubah angka-angka itu menjadi nama yang bisa diingat manusia. Berkat DNS, kita cukup mengetik nama situs, bukan deretan angka, karena mari jujur saja: mengingat nomor telepon sendiri saja kita sudah menyerah.

Tim Berners-Lee dan Proposal yang "Samar tapi Menarik"

Sampai akhir 1980-an, internet sudah ada, tetapi isinya masih seperti perpustakaan tanpa katalog: informasinya banyak, cara menemukannya menyiksa. Pengguna harus tahu persis di komputer mana sebuah file berada, lalu mengambilnya dengan perintah-perintah yang tidak ramah bagi manusia normal.

Pada Maret 1989, seorang fisikawan bernama Tim Berners-Lee, yang bekerja di CERN, laboratorium fisika partikel di Swiss, menulis proposal berjudul "Information Management: A Proposal". Ia mengusulkan sistem dokumen yang saling terhubung lewat hyperlink. Atasannya, Mike Sendall, menulis komentar yang kini legendaris di sampul proposal itu: "vague, but exciting" alias samar, tapi menarik. Komentar itu mungkin adalah persetujuan proposal paling bersejarah yang pernah ditulis dengan nada setengah ragu.

Dari proposal "samar" itu lahirlah World Wide Web. Pada akhir 1990, Berners-Lee sudah membuat tiga hal yang kita pakai sampai sekarang: HTML untuk menulis halaman, HTTP untuk mengirimkannya, dan URL untuk mengalamatinya. Ia juga membuat browser dan server web pertama. Situs web pertama di dunia beralamat di info.cern.ch, dan isinya, dengan tingkat kerendahan hati yang luar biasa, adalah penjelasan tentang apa itu World Wide Web.

Di sini penting meluruskan satu kesalahpahaman populer: web bukanlah internet. Internet adalah jaringannya, jalan rayanya. Web adalah salah satu layanan yang berjalan di atasnya, sama seperti email atau streaming. Menyebut web sebagai internet itu seperti menyebut mobil sebagai jalan tol. Sering dimaklumi dalam obrolan santai, tetapi jangan diucapkan di dekat engineer jaringan yang sedang lelah.

Keputusan besar terjadi pada 30 April 1993: CERN merilis teknologi World Wide Web ke domain publik, gratis untuk siapa saja, tanpa royalti. Keputusan ini mungkin salah satu tindakan paling dermawan dalam sejarah teknologi. Seandainya web dipatenkan dan dipungut biaya, sejarah internet bisa jadi sangat berbeda, dan kemungkinan besar lebih membosankan.

Pada tahun yang sama, browser Mosaic dirilis oleh NCSA dan membuat web tiba-tiba terlihat menarik: halaman bisa menampilkan gambar bersama teks, dan memasangnya mudah. Salah satu pembuatnya, Marc Andreessen, kemudian ikut mendirikan Netscape pada 1994, dan browser Netscape Navigator menjadi pintu masuk jutaan orang ke web. Setelah itu Microsoft datang dengan Internet Explorer, dan dimulailah "browser war", perang yang tidak menumpahkan darah tetapi menumpahkan sangat banyak jam kerja programmer.

Internet Sampai ke Indonesia

Indonesia sendiri mulai tersambung ke internet secara nyata pada pertengahan 1990-an. Jaringan IPTEKnet menjadi salah satu gerbang koneksi awal, dan pada 1994 berdirilah IndoNet, penyedia jasa internet komersial pertama di Indonesia. Sebelum era itu, komunitas radio amatir dan kampus-kampus sudah lebih dulu bereksperimen menghubungkan komputer antar kota, dengan semangat gotong royong dan peralatan seadanya.

Generasi yang mengalami internet Indonesia era awal pasti mengenang warnet, tempat orang menyewa komputer per jam untuk chatting, mengecek email, dan menunggu satu foto termuat baris demi baris seperti gorden yang diturunkan perlahan. Ada juga ritual sakral bernama dial-up: modem berbunyi seperti robot berkumur, dan seisi rumah tahu bahwa selama internet menyala, telepon rumah tidak bisa dipakai. Memilih antara internet dan telepon adalah dilema moral pertama generasi digital Indonesia.

Hari ini situasinya sudah jauh berbeda. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet Indonesia kini mencapai ratusan juta orang, mayoritas penduduk negeri ini. Dari negara yang dulu menumpang koneksi lewat segelintir gerbang, Indonesia menjadi salah satu populasi pengguna internet terbesar di dunia. Warnetnya banyak yang tutup, tetapi semangat "menunggu loading" ternyata abadi.

Dari Dot-com ke Internet di Saku

Akhir 1990-an, dunia dilanda demam dot-com. Perusahaan apa pun yang namanya diakhiri ".com" mendadak terlihat berkilau di mata investor, kadang tanpa perlu repot-repot punya rencana bisnis. Pada tahun 1998, dua mahasiswa Stanford bernama Larry Page dan Sergey Brin mendirikan Google, yang membuat mencari informasi di web berubah dari "berdoa sambil membuka direktori" menjadi sesuatu yang benar-benar berfungsi.

Tahun 2000, gelembung dot-com pecah. Banyak perusahaan tutup, banyak investor patah hati, dan dunia belajar pelajaran klasik: teknologi hebat tetap membutuhkan model bisnis, bukan hanya nama domain yang keren. Namun internet sendiri tidak ikut mati; ia justru memasuki babak baru. Era yang sering disebut Web 2.0 mengubah pengguna dari penonton menjadi pembuat konten, dan lahirlah media sosial: dunia tempat semua orang tiba-tiba punya panggung, lengkap dengan segala konsekuensinya.

Lalu datanglah smartphone. Sejak akhir 2000-an, internet tidak lagi menjadi tempat yang kita "kunjungi" lewat komputer di sudut ruangan, melainkan sesuatu yang tinggal di saku dan ikut ke mana-mana, termasuk ke tempat-tempat yang sebaiknya tidak perlu disebutkan. Menurut data International Telecommunication Union (ITU), kini sekitar dua pertiga penduduk bumi telah menggunakan internet, sekitar 5,5 miliar orang. Dari empat komputer pada tahun 1969 menjadi miliaran perangkat, itu pertumbuhan yang membuat grafik mana pun tampak seperti tebing.

Pelajaran dari Sebuah Jaringan yang Dibangun Ramai-ramai

Kalau ada satu hal yang menonjol dari sejarah ini, itu adalah kenyataan bahwa internet tidak diciptakan oleh satu orang. Ia dibangun berlapis-lapis oleh banyak tangan: Licklider dengan visinya, Baran dan Davies dengan packet switching, Cerf dan Kahn dengan TCP/IP, Mockapetris dengan DNS, Berners-Lee dengan web, serta ribuan insinyur yang menulis standar terbuka bernama RFC (Request for Comments), nama yang sopan sekali untuk dokumen yang mengatur infrastruktur paling penting di dunia.

Para pembangun internet juga mewariskan selera humor yang sehat. Setiap tanggal 1 April, komunitas standar internet punya tradisi menerbitkan RFC lelucon. Yang paling terkenal adalah RFC 1149 tahun 1990, yang dengan sangat serius menspesifikasikan cara mengirim paket data internet menggunakan burung merpati. Dokumen itu ditulis lengkap dengan pertimbangan teknis, dan bertahun-tahun kemudian sekelompok penggemar di Norwegia sungguh-sungguh mengujinya. Paketnya sampai. Latensinya saja yang kurang kompetitif.

Warisan terpenting internet mungkin bukan teknologinya, melainkan caranya dibangun: standar terbuka, kolaborasi lintas negara, dan keputusan-keputusan dermawan seperti pelepasan web ke domain publik. Internet menjadi sebesar ini justru karena tidak ada satu pihak pun yang memilikinya, sebuah anomali indah di dunia yang biasanya sibuk memasang pagar.

Jadi, lain kali wifi di rumah mati dan lampu router berkedip merah, tarik napas dan kenanglah malam di tahun 1969 itu: dua huruf, "LO", lalu crash. Internet lahir dari kegagalan kecil yang ditertawakan, diperbaiki, lalu dicoba lagi. Lima puluh tahun kemudian, resep itu ternyata masih sama, baik untuk jaringan komputer maupun untuk kita yang memakainya.

Rujukan